Sejarah dan Perayaan Hari Waisak di Candi Borobudur

- 14 Mei 2024, 18:19 WIB
Prosesi Perayaan Waisak tahun 1970: Perayaan Waisak di Candi Borobudur simbol toleransi di Indonesia
Prosesi Perayaan Waisak tahun 1970: Perayaan Waisak di Candi Borobudur simbol toleransi di Indonesia /Pikiran Rakyat Tangerang Kota/Kemdikbud

PR TANGERANG KOTA - Umat Buddha di Indonesia akan segera merayakan Hari Waisak 2563 BE/2019 M. Candi Borobudur sering menjadi pusat perayaan yang meriah, meskipun tidak banyak yang mengetahui sejarah panjang perayaan Waisak di lokasi ini. Tradisi ini dimulai pada tahun 1929, diprakarsai oleh Himpunan Teosofi Hindia Belanda, yang anggotanya terdiri dari campuran orang Eropa dan bangsawan Jawa.

Perayaan sempat terhenti selama perang kemerdekaan Indonesia, tetapi dilanjutkan kembali pada tahun 1953. Namun, karena pemugaran Candi Borobudur pada tahun 1973, perayaan dipindahkan sementara ke Candi Mendut.

Toleransi dan Sejarah Perayaan Waisak di Indonesia

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk, dengan berbagai suku dan agama hidup berdampingan. Candi Borobudur, sebagai simbol identitas bangsa, memainkan peran penting dalam sejarah ini. Setelah dibangun pada abad ke-8 dan 9 M, candi ini lama tidak digunakan untuk kegiatan keagamaan. Namun, perayaan Waisak di Candi Borobudur membuktikan toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan yang ada, mencerminkan nilai-nilai yang harus terus dipegang untuk masa depan Indonesia yang harmonis.

Dikutip dari bhagavant.com, Hari Waisak atau Vesak, adalah hari suci bagi umat Buddha di seluruh dunia, memperingati tiga peristiwa penting: kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama, pencapaian Pencerahan Sempurna, dan Parinibbana Buddha Gautama.

Awal Mula Perayaan Waisak di Borobudur

Sejarah modern perayaan Waisak di Candi Borobudur tidak lepas dari peran Theosofische Vereniging, yang mengadakan perayaan pertama kali di Borobudur pada tahun 1927. Organisasi ini didirikan di Amerika Serikat pada tahun 1875 dan kemudian bermarkas di Adyar, India. Terinspirasi oleh filsafat kuno dan agama-agama Asia, komunitas Teosofi Indonesia muncul pertama kali pada tahun 1881 di Pekalongan, Jawa Tengah.

Perayaan Pertama di Borobudur

Perayaan Waisak modern pertama di Candi Borobudur berlangsung pada tahun 1927, dengan bulan Vesākha jatuh pada 17 Mei 1927. Upacara ini dipimpin oleh L. Mangelaar Meertens, seorang pemimpin Buddhis dari Malang, yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan hingga tahun 1939. Pada 23 Mei 1929, upacara pertama diadakan di Candi Mendut, dan kemudian pada 12 Mei 1930, perayaan Waisak pertama kali dirayakan di Candi Borobudur.

Laporan pertama mengenai perayaan Waisak di Candi Borobudur muncul dalam majalah Moestika Dharma edisi Juni 1932, yang mencatat upacara pada 20 Mei 1932. Laporan ini mencatat berbagai latar belakang etnis menghadiri perayaan tersebut, mencerminkan semangat persaudaraan.

Perayaan Waisak Tahun 1938

Dalam perayaan tahun 1938, sekitar 150 orang dari berbagai daerah hadir. Upacara dimulai pukul 18.00 WIB dan dipimpin oleh Meertens, dengan altar yang dihiasi lilin, bunga, dan dupa. Ceramah diberikan dalam bahasa Belanda dan Jawa, dengan puncak acara berupa pradaksina di stupa utama pada pukul 22.30 WIB.

Perayaan Waisak di Candi Borobudur terhenti pada tahun 1940 karena perang dunia dan revolusi kemerdekaan Indonesia. Namun, tradisi ini kembali dilanjutkan pada tahun 1953, meskipun tidak ada tradisi "Detik-detik Waisak" seperti sekarang. Tradisi ini mulai muncul pada perayaan tahun 1932.

Halaman:

Editor: Baha Sugara


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah